header image
 

Sepak bola, PSSI, Irasionalitas dan Lelaki

Terdapat paradoks yang mungkin agak aneh ketika menghubungkan tiga kata diatas, kenapa saya sebut sebagai sebuah paradoks? Kaitannya adalah sebagai berikut :

Ada hipotesis yang mengatakan bahwa secara psikologis proses alur berpikir dan mengambil keputusan antara lelaki dan perempuan adalah berbeda. Lelaki lebih mengedepankan rasionalitas dalam mengambil keputusannya, dan wanita dengan arifnya menggunakan emosi sebagai filter pertama yang ia pasang dalam menentukan analisisnya. Hipotesis tersebut tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah.

Entah dengan wanita namun bagi kaum pria ada beberapa hal di dunia ini yang bisa menyebabkan rasionalitas mereka menjadi lenyap tak berjejak, hilang secara misterius, dan menguap tak berbekas dalam otak mereka. Satu dari beberapa hal itu [yang disepakati oleh lebih dari separuh penduduk dunia berjenis kelamin laki-laki] adalah BOLA, lebih tepatnya SEPAK BOLA, FOOTBALL, FUTBOL, SOCCER, BOLA SEPAK.

Lanjutkan membaca ‘Sepak bola, PSSI, Irasionalitas dan Lelaki’

Kopi Bali tjap “Kupu Kupu Bola Dunia”

Makasih buat temen saya -mba Dina- yang udah sempet-sempetnya maen ke Bali dan mbawain saya oleh-oleh kopi ini. Kopi Bali tjap “Kupu-Kupu Bola Dunia” yang diproduksi oleh PT Putra Bhineka Perkasa (Denpasar-Bali).

gb. :Kopi Bali tjap “Kupu-Kupu Bola Dunia”

Lanjutkan membaca ‘Kopi Bali tjap “Kupu Kupu Bola Dunia”’

Berkaca lalu bersyukur

Mbok mbok pedagang pecel di stasiun purwokerto membanting tulang demi lima belas ribu Rupiah perhari. Tukang becak di terminal purwokerto, mengelap peluh demi lima ribu Rupiah dari jalanan menanjak sepanjang tiga kilometer dari terminal Purwokerto hingga kompleks perumahan saya.

Pemulung sampah yang beristirahat di sepanjang RS Persahabatan Rawamangun, bekerja hingga larut malam demi 7500 Rupiah persetiap harinya. Pelayan di sebuah warung kopi tenar di bilangan pusat Jakarta, bekerja tak tidur dua belas jam demi uang sebesar kurang dari satu juta Rupiah perbulannya. Tukang cukur salon kecil di jalan layur, setia menunggu pelanggan yang datang maksimal lima orang perharinya, dengan ongkos perorangnya sepuluh ribu rupiah.

Lanjutkan membaca ‘Berkaca lalu bersyukur’

Iman Saya yang Masih Cethek

Mungkin kalau diklasifikasikan iman saya barulah sebatas iman taqlid, atau taraf iman yang paling rendah dari iman-iman yang lain. (Iman Ilmu, Iman Ayan, Iman Haq, Iman Hakekat)

Mungkin keimanan saya barulah pada tahap mengakui keberadaan Tuhan tapi tidak memiliki dasar ilmu atau argumentasi, hanya mengikuti garis keturunan keluarga saya yang sudah Islam dari sononya.

Tapi ijinkan saya berpendapat sedikit saja.

Menarik mendengar cerita tentang Cak Nun, ketika dalam sebuah da’wahnya beliau ditanya oleh audiensnya seperti ini. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“

Lanjutkan membaca ‘Iman Saya yang Masih Cethek’

Sing Penting Posting

Lawas banget ora tau “posting”, gara-garane lagi akeh gawean neng kantor. Kepriben mening, esuk uput-uput wis mangkat kantor, gawean seabreg kelare pas wis mbengi-mbengi. Keselen durung sempet salin wis banjur turu, meninga arep posting. Kepriben carane garep posting. Tapi ya ora papa, jenenge wong urip, kudu nyambut gawe.

Lha kiye carane lagi mbludreg banget. Prei-prei ngantor, udan mening, jan macherelle poll. Dadine kambi iseng, ana wektu lowong neng tengah-tengah gawean tak niati nggo posting nganggo basa leluhur, mbanyumasan totok ora nganggo edit-editan, ora nganggo mikir-mikiran babar pisan.

Dadi sing pada maca aja ngresulah nek cempuleke tulisanku madan mbingungi, ora sesuai karo kaedah EYD sing bener..wong karep-karepku sing garep nulis koh. Rika pada gari maca baen. Nek ana sing bingung, komen baen, ngko tek jawab.

Wis lah, loro Paragraph baen cukup. Diundang karo Pak Bos kon rapat ndimin, dongakna sukses ya sedulur kabeh.

Suwun.

dari “aku ingin” sampai “nokturno”

AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

pantai-ide1.jpg

NOKTURNO

Kubiarkan cahaya bintang memilikimu
Kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya
Gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu …
Entah kapan kau bisa kutangkap

dan puisi Sapardi mengingatkan saya dengan telak malam itu…

Merdeka, Braga, Asia Afrika

Selepas menyelesaikan pekerjaan yang diamanatkan, saya kembali dari menemani kawan-kawan memperoleh data dari kantor regional kami di Kota bandung.

Makan malam bersama sebentar di warung c’mar yang selalu menyapa para pelanggannya ketika akan membayar dengan sapaan “kasep” atau “geulis”, lalu kembali ke penginapan di sekitaran Jalan Merdeka.

Lanjutkan membaca ‘Merdeka, Braga, Asia Afrika’

Kopi-kopi saya

Di kamar saya ada beberapa macam kopi,dengan berbagai varian bentuk dan rasanya. Ada yang saya dapetkan dari temen-temen saya yang baru melancong, ada yang saya beli dari warung depan kostan, ada juga yang saya ambil dari dapur rumah saya di purwokerto waktu saya pulang kampong.

Kalau di list, beberapa kopi yang eksis ada di kamar kostan saya antara lain adalah:

kopi1.jpg

Gb1 : ”Kapal Api” morning blend; ”Espresso Coffe” chocolate; Kopi Gayo; ”Nescafe” coffemix pass!

Lanjutkan membaca ‘Kopi-kopi saya’

Dan Perjalanan (akan) Dimulai Kembali

Ada berbagai macam alasan orang melakukan sebuah trip/ perjalanan wisata. Teman saya yang ini misalkan, beliau lebih menikmati objek wisata yang bersifat adventure, kegiatan yang menantang, dan daerah yang jarang orang “biasa” mengunjunginya kalo bener-bener niat. Ada lagi temen saya yang ini, yang menikmati objek wisata yang modern, kota-kota yang indah, dengan menawarkan beragam toko atau mal yang menjual barang yang menarik, yang ingin mereka beli. Ada juga temen saya yang ini (walau saya belum pernah ketemu langsung dengan beliau) yang lebih senang menikmati perjalanan yang menawarkan keeksotisan budaya, sosiologi dari komunitas atau daerah yang dia kunjungi. Maaf kepada temen-temen saya tersebut kalau penilaian saya itu salah, tapi setidaknya itulah gambaran saya sebagai orang yang senang membaca/mendengar cerita tentang perjalanan mereka dari tulisannya atau penuturannya.

Kalau saya, Ada beragam aspek dan alasan yang saya sukai dari setiap perjalanan yang saya lakukan. Saya suka melakukan perjalanan sendiri, kadang pula saya merindukan berjalan bersama dengan beberapa teman. Kadang saya suka mengunjungi gunung atau laut yang terdapat di pojokan peta, jauh dari hingar bingar kota. Terkadang pula saya suka mengunjungi kota yang memiliki masyarakat yang hidup dengan tradisi atau kultur yang unik yang bisa saya jadikan kaca benggalaning, contoh yang baik untuk coba saya bandingkan dengan kultur atau tradisi lingkungan di sekitar hidup saya biasanya.

Lanjutkan membaca ‘Dan Perjalanan (akan) Dimulai Kembali’

Arti Sebuah Foto

Sebuah foto berisi beribu macam kenangan yang tersimpan di dalamnya, sebuah foto bisa mengingatkan kita kembali pada apa sebenarnya makna jujur yang terkandung dalam moment yang terekam di dalamnya. Ingatan kita kembali pada kenangan yang terjadi ketika lampu blitz menyala sepersekian detik yang membuat kita bersikap spontan.

Ketika hati kita terasa terbebani oleh berbagai macam masalah yang kita buat, beban hidup yang terasa berat menghimpit, kenangan pahit yang kita lakukan…cobalah tengok foto…dia merupakan penghibur ulung yang mampu memberikan kedamaian dalam hidup kita tanpa banyak bicara. kadang kita bisa tersenyum, kadang kita bisa tertawa, kadang kita malah bisa bersedih dan menitikkan air mata hanya dengan melihat sebuah foto.

Lanjutkan membaca ‘Arti Sebuah Foto’